Demam Piala Dunia

Hari ini (9 Juni 2006) peristiwa terbesar di bumi, yaitu World Cup akan dimulai. Tepatnya pukul 23.00, semua orang akan menyaksikan pertandingan perdana tim Jerman melawan Kosta Rika di Allianz Arena, Munchen, membuka perhelatan yang dinanti-nantikan ini. Demam piala dunia sudah berlangsung, bahkan setahun sebelumnya. Demam ini mengalahkan semua demam yang ada di bumi. Demam berdarah yang menjangkit di beberapa daerah di Indonesia pun tidak ada gaungnya ketimbang demam yang satu ini. Dari anak TK, SD, remaja, orang tua, kakek-nenek, pria wanita semua terkena demam ini. Semua orang membicarakan piala dunia tidak henti-hentinya, bahkan mengalahkan rating kasus KKN Soeharto sekalipun.

Piala dunia yang dikuti oleh 32 negara ini seakan menghipnosis seluruh penduduk bumi untuk ikut serta menjadi bagian dari peristiwa terbesar di setiap penyelenggaraannya. Contoh kecil misalnya, di beberapa tempat di jakarta, saya banyak melihat warga mendirikan posko-posko “piala dunia”. Posko ini sebenarnya fungsi utamanya sebagai pos kamling, namun oleh warga diubah menjadi tempat nonton bareng piala dunia. Di beberapa posko, saya melihat warga menaruh pesawat televisi dan dekorasi bersuasana World Cup. Menurut mereka, sambil menjaga keamanan lingkungan, mereka nonton bareng. Akan lebih mengasyikan menonton bersama-sama daripada nonton sendiri di rumah. Suatu kebersamaan yang bagus menurut saya, namun jangan karena keasyikan nonton, malah melupakan menjaga keamanan lingkungan.

Ada satu kejadian lucu yang saya alami di rumah. Ketika itu, saya dan beberapa kerabat sedang membicarakan piala dunia. Di sana, ada juga keponakan saya yang baru berumur 5 tahun sambil menonton televisi juga memerhatikan pembicaraan kami. Ketika itu sudah pukul delapan malam. Lalu, kakak saya menyuruh anaknya itu (keponakan saya) untuk tidur karena jam tidur malamnya sudah tiba. Namun, ia malah berceloteh mau menonton pembukaan piala dunia nanti pukul sembilan malam. Padahal, piala dunia baru dimulai tanggal 9 Juni ini. Keponakan saya mengira, pertandingan perdana akan dimulai pukul sembilan nanti. Kami pun hanya tersenyum dan tertawa melihat ketidaktahuannya itu.

Pengaruh piala dunia kepada semua orang memang sudah pada taraf demam tinggi. Apalagi kini sudah mendekati hitungan jam peristiwa terbesar itu akan dimulai. Contoh di atas mungkin hanya contoh kecil saja. Satu lagi yang tidak dapat dimungkiri, yaitu ajang taruhan. Semua orang tahu bahwa peristiwa ini akan menjadi pesta taruhan yang menjangkiti setiap orang. Mudah-mudahan, dampak ini hanya sesaat. Setelah piala dunia selesai, kita akan melupakan ajang taruh-taruhan ini. Satu hal yang bagi saya menjadi nilai positif dari piala dunia ialah rasa bersatu, nasionalisme, kebersamaan, dan semangat sportivitas. Tentu ini menjadi sebuah keinginan yang sangat didambakan terjadi di Indonesia. ***Joe

One Response to “Demam Piala Dunia”

  1. Vicks Says:

    Sayang Titiek Soeharto mengganggu kesyahduan Piala Dunia. Ngapain dia jadi host, ngomong aja gagap

Leave a Reply